Tuesday, February 8, 2011

Good Person

“Good people are taken, into someone, or not into relationship”

**

Raga berdiri di pinggir lapangan basket. Jari-jarinya terkait pada kawat pagar yang berfungsi untuk menghalagi orang bodoh yang termenung di pinggir lapangan sepertinya untuk terkena pantulan bola nyasar yang pasti akan merobohkannya dalam satu kali serangan. Ia tidak memperhatikan apapun yang bergerak di dalam lapangan tersebut. Tidak dribble yang tiada berhenti maupun treepoint yang tak pernah meleset. Ia mempunyai sesuatu yang menguasai pandangnya.
Wajah manis dihiasi bibir mungil berwarna pink, mata bercahaya dengan bulu mata yang lentik, serta rambut yang tergerai sempurna tanpa kusut walaupun angin berhembus tanpa ampun hari ini. Hari ini ia memakai jeans biru muda dan sweater rajut hitam yang kian menambah kontras pada kulit putihnya. “Claris”, Raga bergumam pelan. Tak akan cukup untuk menjangkau pendengaran gadis itu. Raga memang tak ingin memanggilnya, terlalu beresiko kerena gadis itu bahkan hanya tahu mereka pernah satu kelas saat di sekolah dasar. Bahkan mungkin ia tak ingat sama sekali. Hal terberani yang Raga bisa lakukan adalah menyimpan angannya selama bertahun-tahun.
Tanpa sadar, permainan sore ini telah selesai. Para pemuda tegap itupun beranjak ke pinggir lapangan, salah satunya berjalan ke arah Clarissa lalu ia berkata ”Sayang, pulang yuk!”

***
Selulernya tak kunjung membuatnya senang, benda yang seharusnya canggih itu menunjukan tanda low-batt. Padahal belum ada setengah hari ia memakainya. Rassel terpaksa men-chargenya dengan keadaan hidup. Sebuah hal yang tabu ia lakukan sebenarnya. Dari penjual di toko seluler, ia dinasehati untuk tidak membiarkan selulernya menyala saat mengisi baterai. ”Nanti batrenya cepet soak, mbak.” ujar si penjual saat itu. Saat ini, ia terpaksa membuat pengecualian
Rassel tak ingin melewatkan dering nada pesan masuk dari selulernya. Ia ingin melihat nama Arka muncul dan membuatnya terlonjak senang. Pemuda itu akan membawanya ke pembicaraan aneh yang selalu menarik walaupun kadang ia perlu membaca lebih lanjut tentang apa yang mereka bicarakan. Namun yang muncul satu jam kemudian hanyalah tulisan ”Battery fully charged” yang menluluhkan semangatnya.
Rassel menghela nafas. Ia tahu selulernya tak akan menunjukan apapun. Tidak berdering dengan nada pesan masuk, apalagi sambungan telepon. Tidak mungkin ada naman Arka dilayar tersebut. Ia sadar Arka sebenarnya tidak pernah membawanya ke pembicaraan aneh yang selalu ia nikmati, malah sebaliknya ia yang menciptakan topik-topik itu, Arka hanya menanggapi dan memberikan sudut pandang yang selalu memikatnya. Sialnya, pengolahan data di kepala Rassel sudah bercampur dengan perasaan aneh yang membuat logikanya menjadi kacau saat mendengar statement Arka beberapa waktu lalu, ”I enjoy being single”.

***

Raga dan Rassel. Mungkin mereka terpisah puluhan kilometer di kota yang berbeda. Atau hanya belasan kilometer di tempat yang beda. Maupun berselisih beberapa meter di ruangan yang berbeda. Dimanapun keberadaannya, kedua orang itu tetap akan menjadi individu kesepian karena mengisi kepalanya dengan sosok hampir maya yang bahkan tak pernah memikirkan mereka.

***

"A good person is those who stupidly keep an empty hope to feel full"

Saturday, December 4, 2010

Drama Toilet Ibukota

Sebagai seorang pemuda lulusan SMP, aku cukup berutung bisa mendapat pekerjaan di kota besar. Gedung tempatku bekerja pun merupakan satu dari bagunan paling mewah dengan pendingin yang tidak pernah berhenti. Dimana uang keluar dari dompet mahal istri maupun simpanan pengusaha yang menggelayut manja. Juga dimana mobil yang masuk bukan angkot berpolusi menyesakan tapi mobil mulus yang tak akan kumiliki dengan menjual nyawa pada setan sekalipun. Apa sudah tertebak dimana aku bekerja? Ya, benar apabila kamu menjawab sebuah pusat perbelanjaan, atau kerennya, mall.

Gedung bertingkat 6 ini luasnya bukan main, ada lebih dari 5 atrium yang secara satuan lebih luas dari lapangan bola di kampungku. Dari toko yang berbaris mulus tanpa cacat segaris pun di tiap pintu kacanya hingga diskotik yang baru buka saat banyak orang memutuskan untuk bergelung di bawah selimut. Nah, disanalah aku ditempatkan selama 4 kali dalam seminggu, beberapa toilet di lantai 6. Apakah kamu menebak aku seorang cleaning service? Ya kamu benar lagi.

Dalam 4 kali seminggu mendapat sudut pandang menarik tentang ibukota, rasanya ingin aku menukar semua shift ku menjadi malam, tapi apabila hal itu kulakukan aku tak bisa mendapatkan tip yang cukup bagus dari pengunjung pagi sampai sore hari. Para orang baik hati yang masih menyediakan sedikit receh mereka walaupun tau toliet ini dapat dipakai gratis. Aku suka mereka.

Kembali pada shift malam ku, kenapa itu menarik? Tentunya diskotik di lantai atas itulah sebabnya. Kudengar dari satpam yang menjaga, diskotik itu sangat terkenal dikalangan para penjelajah malam. Yang ku tahu mereka baru ramai datang pukul 12 dan pulang menjelang azan subuh.

---

”Aku gak mau tau, kamu harus putusin cowok kamu yang brengsek itu. Emang karena dia ngorbitin kamu jadi model dia berhak milikin kamu?!”
Pembicaraan seperti itulah yang mengagetkanku pada minggu pertama aku bekerja. Ya, Tuhan. Beneran ada ya yang seperti ini di kota besar? Maklum aku dari kampung terpencil dan keluargaku cukup taat beragama. Tahu manusia tidak menetas dari cangkang seperti ayam saja baru ketika SMP.

Tak lama berselang aku, menemukan dua wanita saling berpelukan diluar pintu toliet. Salah satunya menangis. Akupun berdoa pada Tuhan semoga mereka bukan pasangan kekasih.
”Gue gak bisa gini terus, Mel...” Wanita yang menangis memulai ceritanya “Ini udah kedua kalinya Pak Jhony, nyuruh gue ngegugurin bayi gue. Yang pertama aja masih suka kebawa di mimpi gue, gue takut, Mel.”
Ternyata apa yang kudengar bukan berita yang lebih baik dari dugaanku. Kasihan wanita cantik itu. Kulit mulusnya begitu menggodaku untuk ikut memeluknya. Aku pun cepat-cepat menghapus pikiran itu dan tetep jalan tertunduk ke ruang suply mengambil detergen.

Shift malam menjaga toilet seakan tidak pernah berhenti memberiku pengalaman baru. Namun kejadian minggu lalu merupakan satu yang nampaknya akan sulit kulupakan.
”Mas, masss, tolong, mas...” rintih seorang pria terdenger dari toilet paling ujung lantai 6 saat aku membuka pintu.
Darah mengalir dari kemejanya yang terkoyak. Aku panik. Sangat panik. Aku hampir menangis karena ketakutan, saat meninggalkan laki-laki itu untuk memanggil satpam. Namun, saat kami kembali laki-laki itu sudah tidak bernyawa, polisi datang beberapa lama kemudian, lalu menanyaiku macam-macam.
”Pak, saya gak tau apa-apa, Pak... Sumpah, demi Tuhan” ucapku saat pertanyaan-pertanyaan itu mulai terasa menyudutkanku, air mata ketakutan yang sedari tadi kutahan mulai mengalir deras.
”Enggak, Jang, kamu cuma saksi. Tenang ya, Jang, jawab dulu aja. Ini cuma prosedur kok ” polisi muda itu menenangkanku.

---

Malam itu ternyata tidak kapok membuatku masuk di shift malam. Aku ingin menjadi pahlawan di tengah malam sampai dini hari. Aku ingin mengatakan pada pasangan sejenis yang kutemui untuk mengatakan mereka cukup tampan untuk membuat para gadis pingsan saat menerima senyuman mereka. Atau ingin memeluk wanita cantik yang dihamili bosnya dan mengatakan aku akan menikahinya. Bisa juga menghalagi usaha pembunuhan yang mungkin terjadi di pojokan lain di lantai ini.

Imajinasiku makin melayang malam ini, padahal aku tidak menenggak minuman maupun benda aneh yang katanya banyak beredar di tempat dugem, istilah yang sampai sekarang aku belum tau artinya. Aku masih menyimpan imajinasi itu ketika membuka pintu toliet pria untuk jadwal pengecekan pertama malam ini, dua orang yang tadinya sedang saling memeluk ditempat cuci tangan, mendadak menjauh.
”Maaf, Mas, latihan drama.” salah satu pria mencoba menjelaskan keadaan yang sekilas kulihat.

Saturday, November 20, 2010

Senja Hari dan Langit Sore

*Pernah jadi sebuah hadiah ulang tahun bagi seorang teman juga sebuah inspirasi bagu suatu proyek yang bersama seorang teman. Two special events, two happiness. enjoy :)*

Arlana berjalan dibawah hujan yang turun layaknya serpihan salju, namun pikiran itu segera saja menimbulkan tawanya. Salju? Yang benar saja. Paling tidak, tawa itu menghasilkan senyum yang bertahan beberapa menit sebelum ia sadar telpon selularnya bergetar.

Nada tunggu itu berubah menjadi sebuah sapaan dari putrinya yang sudah lama ia nanti. Entah kenapa Giana rindu sekali dengan anak semata wayangnya tersebut. Malam tadi ia memimpikan saat-saat ia bermain dengan Arlana kecilnya, belasan tahun lalu. Padahal ia tidak pernah membuka album yang sekiranya dapat merasuk alam bawah sadar dan memasukan kenangan itu dalam mimpinya.

Hujan yang membesar membuat Arlana buru-buru mematikan telponnya. Hari ini ia lupa membawa payung, dan kenyataan itu membuat ia menyesal telah mengambil jalan memutar hanya karena ingin menkimati teduhnya langit dan basahnya udara sore itu. Sebuah warnet menggoda langkahnya, tempat berteduh yang akan terlalu mahal pikirnya karena hujan mungkin tidak akan berlama-lama mengguyur, namun tetap saja ia melangkah masuk.

***

Ia mendengar pintu terbuka, membawa serta suara deru angin dan hujan di luar. Padahal ia telah selesai mencari tugasnya dan ingin segera mengakhiri petualangannya di dunia maya yang sudah berlangsung lebih dari 5 jam. Namun, sebuah suara memanggil, ”Fendi”, ia tersenyum sekenanya, nampaknya gadis yang baru masuk itu mengenalnya. Apapun untuk menghindari pembicaraan lebih jauh, menurut Fendi itu pilihan yang tepat kali ini. Ia mengantuk. Namun suara pembicaraan telpon dari bilik sebelah membuatnya sedikit terganggu.

Sebagai mahasiswa tahun kedua, Median sudah merasa hampir muak dengan tugas-tugas yang rasanya tidak pernah habis semenjak ia menanggalkan seragam putih abu-abu, dan sore ini semua itu tumpah di telinga temannya yang sekarang terjebak hujan di sebuah warnet, entah dimana. Ia tidak peduli walaupun hujan menyebabkan koneksi mereka seringkali terganggu karena cuaca sore ini. Ia hanya ingin sedikit meringankan kepalanya. Sayang kali ini sisa rupiah di selulernya tidak mengijinkan pembicaraan itu untuk berlangsung lebih lama. Padahal temannya baru saja mulai menceritakan tentang pemuda yang ia temui di warnet.

Fendi sedikit senang pembicaraan itu berakhir, suara gadis di sebelahnya memang tidak keras, tapi kadang warnet merupakan tempat yang bisa menjadi sangat tenang karena setiap biliknya berlaku bagai pasir isap yang akan menelan penggunanya ke dunia maya. Dan ia menyukai itu, ketenangan yang bahkan jarang ia jumpai di perpustakaan. Melihat hujan di luar yang mulai mereda Fendi memutuskan untuk pergi, sedikit tersiram gerimis mungkin, namun ia tidak peduli. Sebuah chat yang masuk pun diabaikannya, ia hanya ingin pulang saat ini.

***
Chat itu tak berbalas. Mungkin adiknya itu masih enggan bicara dengannya, pikir Dion. Walau ia tidak pernah bosan mencoba menghubungi Fendi lewat berbagai jalur komunikasi, tetapi ia masih belum bisa mendapat jawaban lebih dari berbagai jawaban sekedarnya. Adiknya makin menarik diri dari keluarga besar mereka semenjak ia menuntut ilmu di kampus idamannya. Namun, Dion tau, Fendi sama sekali tidak mengidamkan masuk kampus manapun, adiknya hanya ingin berada jauh dari jangkauan orang tua mereka. Jauh dari semua tuntutan seorang dokter dan ahli fisika yang selalu menuntut terlalu banyak di rumah. Tanda online adiknya sudah hilang, entah kemana, namun berarti usahanya gagal lagi kali ini. Dion pun menghela nafas panjang lalu menyeruput moccachino favoritnya pelan. Tak lama, sebuah tepukan pelan di bahu menghentikan aliran hangat itu.

Tidak butuh waktu lama untuk mengenali sosok Dion dari belakang, tadinya Giana hanya ingin menyapanya, namun raut wajah hangat Dion gagal membuatnya untuk langsung beranjak. Ia tidak menyangka bisa melihat Dion lagi di caffe yang sama setelah beberapa lama memutuskan untuk mengurangi frekuensi pertemuan mereka. Dion lebih muda bertahun-tahun darinya, dan lebih cocok apabila Giana mengenalkan pemuda itu pada anaknya yang kuliah di luar kota. Namun di masa lalu, arah pembicaraan mereka sempat membawa dua insan itu pada maksud yang lain. Setelah berkali-kali menolak rasa yang hadir, sore ini, ia bertemu lagi dengan pemuda yang pernah mengisi harinya dan tak bisa mengelak dari obrolan panjang yang menyenangkan.

Nira tidak bisa mengalihkan perhatian dari sudut caffe tempatnya bekerja, seorang pemuda berumur duapuluhsekian dengan wanita yang cukup mapan mengobrol hangat semenjak shiftnya dimulai dua jam lalu. Sulit rasanya menghindari pikiran jahil yang muncul kemudian, lagi pula caffe ini memang seringkali dikunjungi pasangan-pasangan yang agak ”meragukan” statusnya. Tak tahan menanggung otak yang berspekulasi sendiri, Nira pun mengirimkan pesan singkat pada teman karibnya di kota lain.

***

Pesan singkat itu datang bagai angin segar di musim panas. Namun, tawa terbahak Median terhenti seketika ia menyadari listrik di kamarnya padam. Ia tertunduk lemas, hasil ketikannya belum ia simpan. Kepalanya panas, dan rasanya ia benar-benar perlu angin segar dalam bentuk sebenarnya. Semburat berbagai warna di luar jendela mengundang dirinya untuk melangkah meninggalkan kamar.

Listrik padam dan si operator yang malang itu harus melayani semua orang yang serentak memutuskan meninggalkan warnet itu. Sebenarnya Arlana ragu harus senang atau tidak ia berada di antrian pertama, ia pikir gerimis masih bersisa, namun begitu langkahnya keluar dari warnet, senyumnya mengembang. Langit seakan dipenuhi pelangi.

Fendi belum juga sampai di kost, padahal kantuknya begitu berat saat ia di warnet tadi. Gerimis sore ini begitu menggoda. Membuat sepatu converse tuanya tidak rela untuk berhenti. Terlebih lagi warna-warni diatas sana memberikannya alasan untuk terus menikmati senja.
***

Siapa sangka senja hari di kota itu dapat mengeluarkan semburat warna-warna indah setelah berhari-hari dinaungi awan mendung. Namun tidak banyak yang menyempatkan diri berlama-lama mendongak ke atas dan menikmati sajian alam itu. Akan tetapi ada tiga orang yang rakus menelan keindahannya, dengan penuh harap di kepala masing-masing.

Di bawah langit sore di kota yang lain, jalanan basah tengah mengering. Sebuah mobil pembawa bahan bakar keluar dari jalur dan menabrak sebuah caffe di pinggir jalan protokol. Sebuah ledakan besar dan kobaran api yang menjilat tinggi tercipta dengan indah, ironis. Jingga yang menggelora itu menunda sejenak warna malam untuk datang.

Thursday, September 9, 2010

Kecup(u)an Dini hari

“I’m just a teenage dirtbag, baby. Yeah I’m just a teenage dirtbag, baby. Listen to Iron Maiden, baby with me…!”

Lagu itu telah bersarang entah berapa lama di kepalaku. Semenjak film-film remaja Amerika masih berjaya. Tentu saja aku menontonnya sembunyi-sembunyi bersama kakakku yang saat itu sedang puber, sedangkan aku, hanya anak kecil yang terlalu cepat dewasa akibat dicekoki tatapan manis Freddie Prince Jr maupun senyum cute Ashton Kucther. Seiiring waktu yang berjalan, begitupun masuknya sinema-sinema jepang, taiwan, dan kini teledrama korea, film-film remaja Amerika yang dulu kutonton itu nampaknya habis dilibas dengan wajah manis asia yang menyerempet ehem.. cantik. Yang tersedia sekarang hanya sinema macam High Scool Musical atau terjerumus dalam pedofilia karena mengagumi poni Justin Bieber.
Hmmm.. Aku memilih berada dalam masa lalu, dan lagu dari Wheatus yang sering kali kudengungkan mengikatku pada masa itu.

"Dia keren", kata pria yang kusukai ketika ditanya tentang diriku.
"Keren". Aku berujar sinis. Selera filmku banyak dipuji dengan kata itu. Pengetahuan musikku pun bernasib kurang lebih sama. "Keren". Kebayakan dari mereka menyukai pilihanku untuk hidup di masa sinema remaja Amerika masih menampilkan skate board dan heroic loser theme, tentunya sebelum Judd Appatow menjadikan sosok loser begitu keren lewat Michael Cera maupun Seth Rogen. Namun aku mengutuk kata "keren" yang menghantuiku, kata yang tak pernah membuatku terlihat semestinya. Kata "keren" entah mengapa melegitimasiku berbuat sedikit kasar, menggunakan banyak kata F dan S—walaupun aku tak akan menggunakannya dalam bahasa ibu ku— serta memudahkanku dekat dengan banyak orang. Mereka memandangku sebagai orang yang lepas dan "hidup". Padahal jujur, aku jauh dari itu.

Demi apapun aku mengasihani diriku, kata "keren" sudah tidak terdengar seperti semestinya ketika umurku menginjak angka 20-an, ketika tuntutan jadi dewasa datang dari segala penjuru. Ketika kepatutan bersikap dituntut para orang tua. Kata mereka menjadi "unik" bukan pilihan yang baik, walaupun kemudian mereka akan mengatakan menjadi diri sendiri adalah yang "terbaik". Namun tiada hentinya mereka memberikan pola yang harus kuikuti untuk menjadi robot yang mereka inginkan. Hipokrit.

Aku membenci kata "keren". Kata itu sama sekali tidak membantuku berani melangkah. Berani menjadi beda. Melakukan backpacking, pergi dari rumah, atau sekedar mengatasi ketakutanku pada jarum suntik. Kata "keren" juga tidak membantuku menaikan level pertemanan yang sudah kujalin dengan pria yang kusukai, menurutnya aku terlalu "asik" dan ia tidak ingin merusak persahabatan kami. Itu semua kata-kata klise yang berlaku bagai air yang masuk ke teligaku, mengganggu.

Lampu selulerku menyala dan tulisan aktifasi Alarm pun muncul. Dengan sebuah gerakan cepat aku mematikannya bahkan sebelum bunyinya berdengung. Tanda yang menyenangkan, seperti bel sekolah yang selalu kunanti pada masa seragam masih membungkus diriku. Tanda ini menunjukan batas waktu pikiranku untuk meracau sudah habis. Sebagai pengidap syndrom "entah-kenapa-selalu-terbagun-pada-dini-hari-dan-tidak-bisa-tidur-lagi" aku harus mencari cara menyibukan pikiranku sampai pagi menjelang.Inilah caraku, meracau. Setelah ku ringkas, tema dini hari tadi adalah kata "keren". Ah sial, semua ini sangat tidak "keren".

Friday, July 23, 2010

Namun Argo

Banyak hal yang telah diambil Namun dari seorang Argo.

Namun mengoyak mimpinya...
"Jadi penulis?! Jangan tinggi-tinggi punya mimpi! Tulisan kamu tuh gak sebagus itu. Lagian, kamu mau makan kertas kalo tulisan kamu enggak laku?! Bapak tidak ijinkan kamu mencoret-coret tidak penting seperti itu!"

meremehkan idenya..
"Bayangin yang nyata aja deh Go, gak mungkin ya kamu bisa bikin dunia lebih baik dengan cuma nebar senyum kayak gitu, kakak sih cuman mau kamu realistis aja, Go."

dan berkata sinis pada obsesinya...
"Ariana?! Lo naksir Ariana?! Sadar diri dong, Pangeran! Gue aja gak maksa buat terus ngejar si Kelly, mana mau cewe kayak gitu ama tampang2 macem gue. Nah samanya juga elo kudu sadar gak ngarep2 ama Ariana!"

Namun juga mengekangnya dalam identitas yang tidak ia inginkan...
"Kamu itu dari kecil introvert Argo, kamu gak bisa ada dilingkungan yang ramai. Emosi kamu labil dan bisa meledak kapan aja. Kamu masih kayak anak-anak, Go"

Argo membenci Namun, akan tetapi Argo tak bisa melepaskan diri dari Namun, jika ia ingin Namun pergi maka ia harus pergi meninggalkan dunia. Paling tidak begitu satu-satunya jalan keluar yang pernah ia pikirkan.

Sayang, Namun lagi-lagi menghalanginya,
"bunuh diri itu dosa tau!"

Sekarang, Namun berdiri di depan pintunya, menghalaginya untuk keluar dan mengintip apa yang ditawarkan dunia pagi ini. Namun juga mengikatnya di lantai, tempat ia teronggok lemah karena belum menyuapkan makanan padat ke lambungnya semenjak 2 hari lalu. Argo melirik lesu ke secarik kertas yang ditempel namun di pojok layar LCDnya,
"Pantang keluar sebelum didadar*". Dengan sisa tenanganya, Argo pun kembali bergumul dengan teori.

Namun tersenyum melihat ia yang sudah tak lagi punya daya untuk melawan, namun telah menang.

*di"dadar" dari kata "pendadaran", istilah untuk "sidang akhir" yang digunakan beberapa universitas.

Monday, June 28, 2010

Lonceng Angin

Malia menyukai hidupnya. Sedarhana, statis dan begitu santai. Rangkaian 3 kata yang bagi beberapa orang terdengar tidak menjanjikan. Dibandingkan kakak dan adiknya sudah menjadi orang-orang yang sukses, dua orang dokter, seorang pengacara, serta dua orang insinyur entah bidang apa, ia menyukai pekerjaannya sekarang. Seorang kasir disebuah toko roti yang sangat terkenal dengan roti manisnya. Toko yang laris dan selalu tutup sekitar pukul 5 sore, saat roti terakhir terjual.

Setelah menyelesaikan perihal pembukuan, Malia akan melangkah pulang di iringi azan maghrib ke rumah kontrakannya yang mungil tidak jauh dari tempatnya bekerja. Ia menyukai perjalanan pulangnya, ditemani temaram senja dan angin sore yang sejuk, jalan kecil yang ia lalui setiap harinya merupakan jalan komplek tempat anak-anak bermain, tidak jarang sepeda-sepeda mini masih tergolek di luat pagar, ditinggalkan si empunya yang dipanggil sang ibu yang masih percaya akan cerita lama ”tidak baik bermain saat diluar saat maghrib, nanti diculik kolongwewe”

Akan tetapi yang paling ia sukai dari perjalanannya adalah memandangi sebuah rumah lama yang tersempil belokan kedua sebelum ia sampai ke kontakannya. Selintas yang ia dengar dari anak-anak rumah itu berhantu. Mendengar hal itu ia hanya bisa tersenyum, antara percaya atau tidak. Terdapat sebuah lonceng angin yang selalu berbunyi indah dari rumah itu. bunyinya seperti mempunyai perasaan tersendiri, hangat seperti sebuah tawa girang maupun pelukan seorang teman. Malia menyukainya, menenangkan pikirnya.

Yang ia tidak tahu adalah lonceng itu tidak benar-benar digerakan oleh angin. Adalah Melodi seorang gadis kecil yang selalu memainkannya. Mulanya Melodi hanya memainkan temali lonceng itu selama bertahun-tahun, tak beraturan. Namun semua berubah saat Malia melewati rumah itu dan tersenyum ke arahnya. Malia, seharusnya sama seperti orang-orang lain, tidak bisa melihat Melodi. Karena nyatanya Melodi sudah tidak memiliki raga, Melodi ditinggal keluarganya saat ia gagal berjuang melawan demamnya, bertahun-tahun lalu. Ibu Melodi sangat terpukul, dan melihat hal itu ayahnya memutuskan untuk pindah dari rumah itu dan memindahkan lonceng angin dari kamar Melodi ke teras rumah. Tempat Melodi memainkannya setiap hari menunggu ibu dan ayahnya kembali suatu saat nanti.

Malia maupun Melodi seperti menemukan senyum yang mereka butuhkan. Malia tidak yakin mengapa ia tersenyum ke arah rumah itu tiap kali melewatinya, ia hanya ingin berterimakasih pada lonceng angin itu atas bebunyian yang begitu disukainya. Lalu bagi Melodi senyum Malia adalah hal terbaik yang pernah ia miliki, seperti seorang teman.
Jika dihitung sudah 5 tahun, Malia dan Melodi bertukar cita. Masih akan ada banyak sore yang menyenangkan apabila sebuah tragedi tidak terjadi. Sebuah sore dimana Melodi yang sudah merangkai bunyi berbeda dari lonceng angin itu tidak mendapatkan senyum temannya. Hari kian malam dan Melodi masih lonceng anginnya dengan setengah hati, ia sudah putus asa.

Saat sore berikutnya menjelang, Malia kembali hadir, wajahnya pucat dan terlihat lemas. Terdapat keringat dingin di dahinya. Namun Melodi tidak merasakan perubahan itu, ia terlalu senang, dan ia memalinkan bunyi yang ia rangkai kemarin dengan penuh suka cita, Malia sadar akan suntikan semangat yang ia dengar dari lonceng angin itu, dan ia pun tersenyum. Sayang senyum Malia tidak lama bertahan karena tiba-tiba ia hilang kesadaran dan tumbang didepan mata Melodi. Mulanya Melodi terbungkam, ia bingung atas apa yang dapat ia lakukan, jalanan itu sepi dan ia tidak berdaya menolong Malia yang tergolek lemah. Melodi hanya bisa membunyikan lonceng angin itu sekuat mungkin. Ia ingin membuat sebuah suara seperti lonceng gereja agar Malia bisa mendengarnya dan terbangun atau paling tidak membuat suara itu terdengar oleh seseorang yang dapat menolong mereka.

Malia terbangun disebuah kamar rumah sakit, disampingnya pemilik toko roti menatapnya dengan bahagia. Wanita berumur 60 tahun itu langsung menuju ke rumah sakit sesaat setelah berita tentang Malia sampai ditelinganya. Ia bahkan menggantikan perwalian orang tua Malia disurat-surat administrasi rumah sakit.
”Mal, kamu teh kenapa? Kan Ibu udah bilang kalo kamu masih sakit jangan masuk dulu”
Malia tidak menjawab, hanya tersenyum lemas. Ia ingin memeluk wanita didepannya, namun perhatiannya teralih pada sebuah benda yang ia kenal tergeletak di samping tempat tidurnya. Sang ibu pemilik toko menyadari hal itu dan menjawab tanya Malia.
”Lonceng angin itu ditemuin di genggaman tangan kamu, Mal. Sewaktu kamu pingsan”

Beberapa hari berselang dari kejadian itu, Malia sudah kembali sehat, namun ia harus beristirahat di rumah. Akan tetapi, nampaknya kesehatannya akan cepat pulih mengingat sebuah lonceng angin kini tergantung di teras mungil kontrakannya dan Melodi dengan senang hati memainkan bebunyian yang mengundang senyum Malia. Selayaknya canda ringan yang dilemparkan seorang teman.

Wednesday, June 23, 2010

Sotoy Tingkat Dewa

Tadinya, Grenda telah bertekad untuk menjaring koneksi sebanyak mungkin di pesta reuni yang diadakan oleh almamaternya ini. Merupakan kesempatan emas untuk mendapat panggilan wawancara di kantor birokrasi maupun perusahaan multinasional dari alumni sukses yang datang. Pesta reuni seperti ini memang sebuah ajang unjuk gigi yang sering kali dipakai fresh graduate sepertinya. Terlibat perbincangan dengan alumni sukses bisa berujung pada sebuah panggilan kerja yang ia idam-idamkan. Ia hanya perlu melontarkan kalimat-kalimat yang mengesankan pikirnya. Bagi seorang dengan pengalaman student exchange yang banyak belum lagi eksistensi tulisannya di jurnal keilmuan mahasiswa, ia yakin ia dapat mewujudkan goalnya.

Namun, satu jam berlalu tanpa hasil yang begitu berarti. Ia malah terjaring di pembicaraan para istri alumni yang bertanya tentang berbagai jurusan favorit di universitasnya, para teman seangkatannya yang meracau tentang kehidupan setelah kuliah, sampai seorang anak kecil yang menangis karena kehilangan orang tuanya. Setalah berhasil menemukan panitia yang dapat mengembalikan anak tersebut, Grenda terduduk lemah di barisan bangku yang disusun di pojok ruangan.

"Salah, mbak, caranya..." sebuah suara menarik pendengarannya. Seorang pemuda, ber-name tag 'PANITIA'
"Kamu ngomong ama saya?" tanya Grenda ketus.
"Iya, emang ada siapa lagi?" pemuda itu balik bertanya sambil menduduki kursi di sebelah Grenda.
Sedikit risih Grenda, menambah nada ketusnya, "Ngapain sih? ngajak kenalan? Gak minat, palingan angkatan 2009. Kamu panitia kan?"
"Hemmm, kalo saya bilang kumpulan ibu-ibu tadi suaminya semuanya diplomat, salah satu temen mbak yang di kumpulan tadi baru diangkat jadi CEO perusahaan terkenal, dan anak yang tadi nangis di kaki mbak itu bapaknya ketua LSM yang sering kerjasama ama negara-negara Eropa, gimana?"
"KAMU STALKER YA??!"
"Hedehh. We all now what the fresh graduates doin here. Fake smiles, looking smart, tryin too hard..."
"Ck ck ck, anak muda..." Grenda menyindir asumsi yang baru didengarnya.
"Ck ck ck, orang tua..." balas pemuda itu.
Grenda tertawa melihat tingkah pemuda di sampingnya, begitu percaya diri dan ehm, menggemaskan. Glek! Grenda tidak percaya pikiran yang baru melintas, ia disini untuk mencari peluang masa depan, bukan kisah aneh dengan daun muda.
"Let me just show you how to communicate, shall we?"
Pemuda itu bangkit dan Grenda mengikutinya. Ia masih sedikit mempertahankan keraguannya dengan berkata "sotoy tingkat dewa" seraya mengikuti langkah si pemuda menuju kerumunan orang.

Hanya butuh setengah jam dan Grenda sudah berada dalam pembicaraan santai dengan beberapa petinggi pemerintahan dan seorang pengacara ternama. Pemuda itu dengan lancar menggabungkan satu topik ke topik lain dengan beberapa kali memberi celah pada Grenda untuk menceritakan detail prestasinya. Pembicaraan itu hangat dan penuh tawa, bahkan sempat seorang alumni yang pernah menjabat asisten kepresidenan ikut dalam pembicaraan itu sebelum tertarik dengan harum martabak mesir baru disajikan di booth makanan.

Grenda hanya bisa terpukau, entah berapa koneksi yang berhasil dibuatnya berkat pemuda di sampingnya. Senyumnya bukan lagi senyum yang dipaksakan. Acara yang menegangkan ini pun terasa begitu ringan hingga ia tidak sadar banyak dari undangan yang telah pulang dan ia serta pemuda itu tengah terduduk di kursi tempat mereka bertemu.
"Masih mikir saya sotoy?"
Grenda tersenyum, dengan berat hati ia harus mengakui kesalahannya, "Hmm... you're..."
"Awesome?"
"Quite good" jawabnya dengan berat hati. "Maybe i shud buy you a drink later."
"It's 'later'"
Jawaban pemuda itu menghentikan senyum grenda, sebuah jawaban yang familiar. Dari sebuah film, pikirnya sambil mencoba menebak judulnya.
Seakan mampu membaca pikiran Grenda pemuda itu menambahkan "It's from The Blind Side".
"Sotoy tingkat dewa, dari mana juga kamu tau saya mikirin tentang line itu?"
"Well, just incase you haven't notice the name on my name tag. It's Dewa."