"Kitto sayaaaangggg!!"
Seruan dari ujung telpon membuat pemuda bernama panggilan Kitto otomatis mereject panggilan tersebut.
Belum ada 10 detik berlalu, sebuah telpon dari suara macho-macho cempreng memanggil lagi dengan kerasnya.
"Kangeeeenn kamu beybihhhhh!!"
Sekuat tenaga Kitto pun menekan tombol reject kembali memeluk gulingnya.
Ketenanganan yang ia inginkan betahan selama satu menit sampai sebuah nada panggil terdengar seperti dengungan combo sirine mobil pemadam kebakaran dan rombongan kambing kurban yang diseret ke pemotongan.
Tanpa melihat layar selulernya ia pun menjawab sepenuh hati,
"ANJ*NG LO BEDUA, GUE BARU TIDUR SUBUH, NYEEETTT! GARA-GARA KEJUTAN ULANG TAUN LO YANG KAMPRET ITU.. PENGEN TIDUR GUE! AWAS LO KALO..."
"Yoga..."
"Eh, Mama.. ehe-ehe-ehe..."
***
Tersebutlah Kitto, Armand, dan Alphyn. Tiga individu dengan kepribadian ajaib yang bersatu dalam sebuah nama "The STUPID Creature". Bukan bermaksud menempelkan label eksklusif karena anggota mereka yang bertahan pada angka yang sama semenjak 7 tahun pembentukannya, tapi memang belum ada orang waras yang cukup rela menempelkan identitas The STUPID creature yang konon bisa mengganggu kesehatan jasmani dan rohani.
Malang tak dapat ditolak bagi Kitto, pergantian umurnya menjadi 20, dimana seharusnya dengan langkah bangga ia meninggalkan umur belasan harus dijalani dengan berlinang air mata. Literally, Kitto aka Yoga Pramana menangis.
-
Tiada lain selain 2 siluman codot, begitu sebut Kitto, yang merupakan teman baiknya telah menjalankan sebuah rencana brilian. Mereka membuat skenario dirampoknya kamar kost Kitto pada pukul 3 dini hari. Terlebih dahulu mereka membuat kejutan ulang tahun yang reguler dengan membawa kue ulang tahun bertuliskan "YOU'RE OLD NOW" pada tengah malam lalu mengajaknya ke restoran burger cepat saji 24 jam untuk minta ditraktir ice-cream cone. Di saat mereka bertiga pergi, teman-teman kost Kitto yang lain sudah bersiap mengacak-acak kamar Kitto dan menjadikan TKP terlihat seperti kerampokan. Si rampok menggasak laptop, hape, baju superman dan bantal kesayangan Kitto, sebuah bantal bapuk yang menyimpan memori berbagai mimpi dewasa Kitto.
"Njingg! Tugas gueee... Laporan gueee.. Gue garap dari seminggu laluuu!" Ucap Kitto yang tertunduk lemas sambil memegang kantong kentang gorengnya.
Armand melihat hal tersebut sebagai ajang unjuk kebolehannya bermain teater. Ia pernah bermain di Gedung Kesenian Jakarta, pada saat SMA. Menggantikan temannya pemeran Pohon Belimbing yang jatuh sakit karena pilek akut berkepanjangan.
"Sabar ya, To.. Mungkin ini petunjuk dari Tuhan, bahwa laporan dan tugas lo belom maksimal. Jadi dikasih kesempatan ngulang lagi.."
"Maksud lo nyeeeettt??! Dikumpulin semuanya besokkk.. Gue kapan ngulangnya?! Taun depann?!"
"Yah masih ada kesempatan kan to.. kuliah kan 7 taun"
"LO KATA??!"
Kitto kehabisan kata-kata, ia hanya terdiam... Laptop.. Kemalingan.. Biarpun ditemukan lagi, bayangan mengerjakan dari awal sudah memberikannya mimpi buruk. Namun hal paling masuk akal sekarang menurutnya adalah mengerjakannya lagi, sebisanya. Paling tidak itu rencana untuk pengumpulan tugasnya esok hari, karena alasan "Pak Laptop saya ilang" sudah pernah dipakai semester kemarin pada dosen yang sama. Yang berbeda, kali ini laptopnya benar-benar hilang.
Mata Kitto berkaca-kaca, hidungnya mulai berair. Sedikit banyak ia menolak menangisi kemalangannya. Mau ditaro dimana kemachoannya yang tahan tidak menangis ketika menonton Hatchiko, tapi nampaknya kehilangan laptop dengan isi-isinya di hari ulang tahun benar-benar membuat Kitto terguncang.
"To, lo nangis, To?" tanya Armand menyadari muka terlalu-sedih-dan-syok Kitto.
"Enggak, enggak, kelilipan gue, kamar gue banyak debunya, sinus gue kambuh." jawab kitto.
"Hacchi! Hacchi!" tambahnya pura-pura bersin.
"udah-udah, nih lo ngerjain lagi sebisanya dulu deh pake laptop gue" ujar Alphyn sambil menyerahkan sebuah laptop.
Kitto butuh tiga detik untuk menyadari laptop ditangan Alphyn adalah miliknya.
"ANAK SETANNNNN!!!!!!" serunya.
"Happy birthday, Masbrohhhh!!" seru kedua wajah didepannya sambil nyegir bahagia.
--
Tuesday, August 27, 2013
Sunday, August 25, 2013
Replay
Tubuhnya masih bergetar
satu jam setelah layar televisi di depannya memberitakan jatuhnya pesawat yang membawa
Kendra. Padahal ia masih bisa merasakan gadisnya itu memeluknya erat sebelum
pergi. Ia juga masih bisa mengendus parfum Eternal Jasmine yang selalu Kendra pakai. “Jangan lupa makan yang sehat” kalimat
terakhir gadisnya sebelum pintu bandara menelannya.
Kini semua itu terus
berputar dikepalanya bercampur dengan bayangan goncangan pesawat yang pasti
membuat gadisnya ketakutan luar biasa.
Jika ia tahu apa yang
akan terjadi ia akan memeluk gadisnya itu lebih erat. Peduli setan, ia bahkan tak akan
membiarkan gadisnya menginjakan kaki di bandara itu sekalipun!
-
“Bangun, bangun,
baaaangunnn...” seru suara familiar yang sangat menganggu.
Ia membuka matanya dan
melihat Kendra di depannya.
“Gak ngantor?” tanya Kendra
dengan sendok kayu ditangannya.
Ini mungkin mimpi. Seperti
di film-film, bukan? Pikirnya berasumsi. Ia sedang mengalami shock hebat sampai
memimpikan gadisnya, membangunkannya, sebuah bayangan tentang versi kehidupan
yang ia inginkan selama ini. Baiklah, ia akan memainkan perannya di mimpi ini.
“Umh, iya ngantor... Kamu
juga ngantor?”
“Iya laaahh, ngapain
bangun pagi-pagi kalo gak ngantor. Aku udah nyiapin sarapan ama bekal lho. Baby
kailan lagi gak apa ya? Masih banyak, takut jadi jelek kalo gak di habisin”
Ia mengangguk sambil
tersenyum. Ini mimpi terbaik yang ia miliki. dan ia harap tak akan pernah
bangun lagi.
-
“Bangun, bangun,
baaaangunnn...” seru suara familiar yang sudah lagi tidak menganggu.
“Iya, iya, aku
ngantoooorr...”
“Hehehe, gitu dooong...”
“Abis masak baby kailan
lagi?”
“Kok tau?”
“Nebak aja”
-
“Bangun, bangun,
baaaangunnn...” seru suara familiar yang tidak bosan menganggunya.
Jika boleh jujur ia pun tidak bosan. Terserah pagi
seperti ini mau berulang berapa kali. Terima kasih, Tuhan! Batinnya berseru
setiap pagi.
“Udah banguuunnn, udah
banguuunnn... ” Jawabnya antusias.
“Hore!”
“Hore makan baby kailan!!”
“Lho kok tau? Kemaren buka-buka
kulkas ya? Maap belinya kebanyakan”
“Gak apa kok...”
-
Maka ia pun menjalani
mimpinya dengan sepenuh hati, tidak seberkas rasa jenuh pun menghampirinya. Hidup
macam apa lagi yang bisa ia inginkan jika bukan seperti ini. Rangkaian harinya
dibuka dengan gadisnya, yang sudah menjadi teman hidupnya, membangunkannya,
memasakan sarapan dan bekal yang tidak proporsional karena sepertiganya berisi
porsi sayuran. Lalu ia akan pergi untuk menghadapi meeting yang tidak pernah ia
mengerti, untuk kembali pulang dan berhadapan dengan cheesecake lemon yang
dimakan harus dengan saus coklat karena terlalu asam. Hidup, atau mimpi, ini
indah. Sekali lagi, Terima Kasih, Tuhan!
-
Pagi-pagi dan hari-hari
berikutnya masih berulang layaknya sebuah video dengan tombol replay yang akan
teraktivasi otomatis setelah detik terakhir. Namun, sebuah anomali terjadi saat
Kendra menanyakan,
“Kamu gak pernah merasa
jenuh?”
Ia terdiam mendengar
perkataan itu. Pertanyaan ini tidak ada
di hari-hari sebelumnya. Ia hafal benar setiap detik yang terjadi, dan saat
ini, saat gadisnya sedang menyuap sepotong cheesecake, kalimat yang akan ia katakan
seharusnya “Aseeeemm... pake coklat aja ya makannya.”
“Hey, kamu gak dengar
pertanyaanku?”
“Denger. Ehm, jenuh,
enggak, kan ada cheesecake.”
“Gak nyambung. Besok pergi
yuk, ke Bali.”
“Hah, besok? Emang gak
ngantor?”
“We have to make the
best, as if it’s our last.” Jawab gadisnya antusias.
-
Tubuhnya bergetar hebat
saat melihat tatapan kosong Harvey. Dengan
pelan ia mengarahkan kursi rodanya mendekat.
Menggenggam tangan pria yang ia peluk sebelum pesawat sial itu jatuh dan
membuatnya lumpuh.
“Aku pulang, sayang.” Bisiknya
pelan.
Friday, May 31, 2013
Lantai 7
Setiap pintu lift terbuka di lantai 7 tanpa ada orang
yang memanggil Waldo hanya akan menarik dan menggembuskan nafas pelan. Pintu
itu akan terbuka selama 10 detik, yang berarti ia punya waktu 10 detik untuk
berpura-pura tenang, berdoa dalam hati dan mengenggam MP3 nya lebih erat. Ini
sudah terjadi selama tiga bulan terakhir dan entah mengapa itu selalu terjadi
saat ia berada sendiri di dalam lift. Sialnya lagi, karena kebiasaannya pulang
larut, ia sering kali sendirian di dalam lift.
Namun ia yakin, hari ini pasti
hal itu tidak akan terjadi, ia akan pulang “teng-go” atau tepat waktu bersama
dengan semua karyawan yang akan berlari pulang seperti pelari yang mendengar
suara tembakan.
“Eh, udah mau pulang lo, Do? Tumben.” Kata Ardi yang
memergoki Waldo sudah menggendong backpacknya
“Iya, lagi pengen aja.”
“Oh, iya deh. Ati-ati ya, Do”
“Sip, duluan, Di”
Waldo sudah melangkah jauh menuju lift saat Ardi berseru
“Pake lift yang kiri, Do, yang kanan lagi di service”
**
Teeeeett...!
Bunyi protest lift saat Waldo menjejakan kaki. Orang-orang
di lift pun menghujamnya dengan pandangan tidak ramah. Dengan wajah kecewa
Waldo pun terpaksa melangkah keluar.
Ding!
Lift di belakangnya terbuka. Kosong. Namun Waldo meragu. Ia
akan sendirian kalau masuk lift itu. Suara kecil di dalam kepalanya memprotes,
“Ini kan jam pulang kantor, Do, masak dari lantai 15 ke lantai satu gak ada
yang naik lagi”.
Ia pun tersenyum kecil menyadari keraguannya. Dan melangkah
masuk. Tak sampai 2 detik pintu lift menutup kembali. Layar lift menunjukan
lantai mereka. 15. Lalu turun ke 14, 13, 12, 11...
Waldo mulai merasa aneh, “Kok gak ada yang naik ya?”
Saat angka di layar lift terus berkurang, nafas Waldo mulai
terasa berat.
Ding!
Lantai 7. Waldo mulai mencari MP3 dalam kantongnya dan
menekan tombol On. “Low Batt” Layar LCD kecil itu berkelip. Waldo pun seperti
kehilangan setengah nyawanya, ia harus mengembalikan keberaniannya yang
tercecer.
“Ok, 10 detik, gak akan lama, 10 detik” Matanya memejam
sampai lift “Ding!” kembali terdengar.
Ding!
Pintu lift pun menutup. Waldo bernafas lega sambil
menyaksikan angka di layar lift mengecil mulai mengecil dengan normal, “6...
5... 4...”.
Belum sempat Waldo melihat angka 3 terpampang. Tiba-tiba lampu
di lift mati, dan ia merasakan laju lift tersebut ikut berhenti.
“Ok, This is how i’ll die” Waldo membatin pelan.
**
Waldo meratapi nasibnya dalam gelap. Ia merogoh kantongnya
lebih dalam untuk menemukan selularnya tak bersignal. Suara kecil di kepalanya
yang tadi membodohinya untuk naik ke lift bermasalah ini kembali berguman,
“Mana ada signal di lift!”
Paling tidak ada cahaya. Paling tidak ia bisa memantau
berapa lama ia sudah berada di lift ini. 3 menit dan ia sudah berkali-kali
menekan tombol berwarna merah yang katanya hanya boleh ditekan saat darurat.
Entah seberapa darurat yang operator lift butuh kan untuk sekedar menjawab,
namun baru pada menit ke 5 ada suara dari lubang-lubang kecil.
“Halo, Mas, Mbak? Halo. Jangan panik ya Mas, Mbak, ada
kesalahan teknis kami sedang atasi.”
“Iya Mas, cepetan ya! Cepetan!! Saya Takut!”
Suara dibelakang Waldo menjawab. Suara? Apa? Tadi? Leher
Waldo mendadak kaku. Disaat yang sama lampu lift menyala.
“Ah, syukurlah...” Suara itu berseru lega.
Dengan doa-doa yang tergumam pelan dari mulutnya, Waldo
mengumpulkan nyali menengok ke belakang.
Seorang perempuan berbaju kantor berdiri dibelakangknya. Kakinya
menjejak. Ia terlihat normal. Tidak ada darah menetes maupun wajah pucat.
Matanya cemerlang dengan rambut kuncir kuda yang diikat ke belakang.
“Ka-Kapan Mbak masuknya?”
“Tadi.”
“Dari lantai... tujuh?”
Perempuan di depannya mengangguk.
“Perasaan... Tadi... Kenapa... tadi...”
“Mas mau ngomong apa sih? Gak jelas kalimatnya”
“Mak-maksud saya tadi kayaknya saya sendiri di lift.”
“Emangnya kalo saya masuk harus salam dulu, ini kan lift
bukan rumah orang”
Waldo menggaruk-garuk belakang kepalanya.
“Lagian kalo saya masuk lift masnya juga kayaknya selalu
lagi pasang earphone kok.”
**
“Jadi saya setan?!” Seru perempuan itu saat waldo mengatakan
sudah 3 bulan terakhir lift yang ia tumpangi selalu berhenti di lantai 7, tanpa
ada orang yang masuk dan ia memang selalu memasang earphone jika hal itu
terjadi.
“Yaaaah, mmm... mungkin? Arwah gitu. Tapi kok napak tanah ya
mbak?”
Waldo melihat sekilas ke lantai lift, ia memutar otaknya
untuk mengetahui apa sebenarnya yang ia hadapi.
“Mbak, nama saya Waldo” ujarnya sambil mengajukan tangan.
“Saya Cita,” Ia menyambut tangan waldo, namun keduanya gagal
berjabatan.
Tangan Cita seperti hologram ketika menyentuh tangan Waldo.
Keduanya terbelalak.
Kreeekkk!! Tang! Terdengar suara pintu lift yang dibuka
paksa. Waldo pun menoleh.
“Mas, gak apa-apa, mas?” Ujar beberapa orang teknisi dengan
wajah panik.
“Enggak mas, engggak apa-apa”
“Syukurlah, saya takut banget kejadian kayak yang beberapa
bulan lalu, mas. Ada Mbak yang meninggal mendadak pas lift nya konslet, katanya
panik terus kena serangan jantung gitu”
**
Ding!
Lantai 7. Waldo tersenyum simpul saat pintu lift terbuka.
Seperti biasa penumpang lift itu hanya ia sendiri. Lalu saat pintu lift menutup
10 detik kemudian Waldo menekan tombol stop.
“Kok di stop?” Sebuah suara perempuan memprotes.
“Mau liatin kamu lebih lama.” Ujar Waldo sambil memperlebar
senyumnya.
Thursday, April 25, 2013
Pulang
1992
Wajah kecil itu masih memandangi kue ulang tahunnya yang tinggal setengah. beberapa menit sekali ia melihat jam dinding dan menghela nafas. Sang ibu yang sedari tadi membujuknya untuk beristirahat juga belum kunjung menyerah
"Andi, ayo bobo... Besok kamu sekolah lho..."
"Andi mau tunggu, Bapak. Boleh ya?"
"Bapak masih lama pulangnya, Ndi. Yuk, ganti piyama dulu yuk..."
"Gak mau, Andi mau tunggu, Bapak!"
Suara anak sulungnya itu meninggi. Tentu saja sang ibu kaget, namun keinginannya untuk mengkoreksi nada tinggi yang baru saja diterimanya itu padam ketika melihat kedua mata bocah lelakinya mulai berkaca-kaca.
"Iya, iya, Andi boleh kok tunggu bapak di meja, tapi ganti piyama dan gosok gigi dulu. Ya?"
"Tapi, gak mau gosok gigi, Andi masih mau makan kue, makan kue bareng Bapak."
Sang ibu hanya bisa tesenyum simpul, sedikit kekesalannya kini tersalur kepada Suaminya yang belum kunjung pulang, "Kasihan andi, kan Bapak sudah janji akan pulang awal hari ini," batinnya.
Sementara itu di lantai 5 Gedung Birama Jaya, Breno tergesa membereskan arsip-arsipnya seraya bicara pada rekannya.
"Pak Hendri, laporan saya sudah selesai ya, sudah semua kan?"
"Em, udah kok, eh, Pak Breno ikutan kita makan kan?"
"hah, makan apa? Itu undangan dari kepala divisi, kan mau naik jabatan dia."
"Aduh, harus ya?"
"Harus lah, Pak. Gak enak nanti ama Beliaunya kalo gak dateng semua."
Breno menghela nafas berat, ia melirik plastik berisi bungkusan mobil mainan yang sudah Ia beli saat istirahat makan siang tadi.
Tanpa harus menduga banyak Breno tahu ia pasti sudah terlambat saat ia pulang ke rumahnya di jam 11.00. Istrinya hanya memandang kecewa dan menunjukan Andi yang tertidur di meja makan sambil memegang garpu kecil. Ia masih duduk di posisi yang sama, di depan kue ulang tahunnya.
2015
"Kita lanjut kemana nih, Ndi?" tanya Fendi setelah membayar makan malamnya.
"Yah, enggak deh, Fen. Gue bawa pesenan sop sapi kesukaan bokap nih"
"ya elah, Ndi, pulang jam segini mah percuma, lo gak liat itu jalanan masih gak gerak gitu?"
Andi menggaruk-garuk kepalanya. Ia tau ucapan Fendi benar. Pulang kantor jam 7 malam menyusuri macetnya ibukota sama saja bunuh diri. belum lagi hujan besar tadi sore menurut berita di radio menyumbang derita pada komuter dengan genangan disana-sini.
"Iya deh," jawab Andi lemas, "mau kemana kita?"
"Anak-anak lantai 6 ngajakin nonton di bioskop seberang, nih si Fani baru sms gue, mereka udah disana katanya"
Jarum jam sudah menunjukan jam 9 malam, Bapak masih betah berada meja makan dengan buku sodokunya.
"Bapak belum makan malam, ya?" tanya Ibu.
"Belum, bapak mau makan pake sop daging, tadi katanya Andi mau bawakan"
"Tapi kemungkinan macet di jalan parah banget lho pak, itu diberita bilang gitu, bisa-bisa baru pulang tengah malam gimana?" Anya, si bungsu, menyambung pertanyaan ibu dengan nada khawatir.
"Gak apa-apa, bapak tunggu aja sebentar lagi."
"Makan tumpeng aja mau ya?" rayu Anya.
"Nanti saja, Anya"
Mendengar jawaban seperti itu, Anya hanya bisa memandangi hape nya, ia kesal kakaknya belum kunjung menjawab pesan singkat maupun telponnya. Ia pun mengirimnya lagi,
Andi terkejut bukan main saat selulernya bertubi-tubi menerima pesan dari Anya. Cuaca benar-benar mengacaukan penerimaan signal providernya.
"Kak, dimana? Tadi sore syukuran pensiunan Bapak lancar. Tapi sampe sekarang tumpengnya belum mau dimakan. mau nunggu sop daging dari kakak katanya."
Wajah kecil itu masih memandangi kue ulang tahunnya yang tinggal setengah. beberapa menit sekali ia melihat jam dinding dan menghela nafas. Sang ibu yang sedari tadi membujuknya untuk beristirahat juga belum kunjung menyerah
"Andi, ayo bobo... Besok kamu sekolah lho..."
"Andi mau tunggu, Bapak. Boleh ya?"
"Bapak masih lama pulangnya, Ndi. Yuk, ganti piyama dulu yuk..."
"Gak mau, Andi mau tunggu, Bapak!"
Suara anak sulungnya itu meninggi. Tentu saja sang ibu kaget, namun keinginannya untuk mengkoreksi nada tinggi yang baru saja diterimanya itu padam ketika melihat kedua mata bocah lelakinya mulai berkaca-kaca.
"Iya, iya, Andi boleh kok tunggu bapak di meja, tapi ganti piyama dan gosok gigi dulu. Ya?"
"Tapi, gak mau gosok gigi, Andi masih mau makan kue, makan kue bareng Bapak."
Sang ibu hanya bisa tesenyum simpul, sedikit kekesalannya kini tersalur kepada Suaminya yang belum kunjung pulang, "Kasihan andi, kan Bapak sudah janji akan pulang awal hari ini," batinnya.
Sementara itu di lantai 5 Gedung Birama Jaya, Breno tergesa membereskan arsip-arsipnya seraya bicara pada rekannya.
"Pak Hendri, laporan saya sudah selesai ya, sudah semua kan?"
"Em, udah kok, eh, Pak Breno ikutan kita makan kan?"
"hah, makan apa? Itu undangan dari kepala divisi, kan mau naik jabatan dia."
"Aduh, harus ya?"
"Harus lah, Pak. Gak enak nanti ama Beliaunya kalo gak dateng semua."
Breno menghela nafas berat, ia melirik plastik berisi bungkusan mobil mainan yang sudah Ia beli saat istirahat makan siang tadi.
Tanpa harus menduga banyak Breno tahu ia pasti sudah terlambat saat ia pulang ke rumahnya di jam 11.00. Istrinya hanya memandang kecewa dan menunjukan Andi yang tertidur di meja makan sambil memegang garpu kecil. Ia masih duduk di posisi yang sama, di depan kue ulang tahunnya.
2015
"Kita lanjut kemana nih, Ndi?" tanya Fendi setelah membayar makan malamnya.
"Yah, enggak deh, Fen. Gue bawa pesenan sop sapi kesukaan bokap nih"
"ya elah, Ndi, pulang jam segini mah percuma, lo gak liat itu jalanan masih gak gerak gitu?"
Andi menggaruk-garuk kepalanya. Ia tau ucapan Fendi benar. Pulang kantor jam 7 malam menyusuri macetnya ibukota sama saja bunuh diri. belum lagi hujan besar tadi sore menurut berita di radio menyumbang derita pada komuter dengan genangan disana-sini.
"Iya deh," jawab Andi lemas, "mau kemana kita?"
"Anak-anak lantai 6 ngajakin nonton di bioskop seberang, nih si Fani baru sms gue, mereka udah disana katanya"
Jarum jam sudah menunjukan jam 9 malam, Bapak masih betah berada meja makan dengan buku sodokunya.
"Bapak belum makan malam, ya?" tanya Ibu.
"Belum, bapak mau makan pake sop daging, tadi katanya Andi mau bawakan"
"Tapi kemungkinan macet di jalan parah banget lho pak, itu diberita bilang gitu, bisa-bisa baru pulang tengah malam gimana?" Anya, si bungsu, menyambung pertanyaan ibu dengan nada khawatir.
"Gak apa-apa, bapak tunggu aja sebentar lagi."
"Makan tumpeng aja mau ya?" rayu Anya.
"Nanti saja, Anya"
Mendengar jawaban seperti itu, Anya hanya bisa memandangi hape nya, ia kesal kakaknya belum kunjung menjawab pesan singkat maupun telponnya. Ia pun mengirimnya lagi,
Andi terkejut bukan main saat selulernya bertubi-tubi menerima pesan dari Anya. Cuaca benar-benar mengacaukan penerimaan signal providernya.
"Kak, dimana? Tadi sore syukuran pensiunan Bapak lancar. Tapi sampe sekarang tumpengnya belum mau dimakan. mau nunggu sop daging dari kakak katanya."
Wednesday, April 25, 2012
Gloomy Palm Face
Tukang bunga itu memastikan lagi pesanan yang ia terima kemarin. Lima tangkai mawar putih disusun dengan buket berpita merah.
“1, 2, 3, 4, 5...” hitungnya.
Tak lama seorang pemuda datang mengambil buket itu, jam 5 sore, seperti yang dipesan kemarin. Begitu tepat, tak kurang, tak lebih.
“Selamat ya, mas.” Ujar tukang bunga itu.
“Kenapa, mas?” Pemuda itu bertanya heran.
“Untuk pacarnya ‘kan?”
Si pemuda hanya tersenyum kecil lalu membayar uang pas. Setelah berucap terima kasih, ia segera pergi seakan terburu-buru mengejar sesuatu.
***
Gadis itu melangkah terburu, ia bahkan tak membuang waktu menikmati cuaca sore yang sejuk karena hujan siang tadi. Ia juga tidak peduli ada pelagi yang centil muncul diatas sana. Ia hanya ingin cepat mengambil pesanannya.
“Syukur lah belum tutup...” serunya sambil mengambil nafas.
“Belum kok, Neng. Santai aja. Oiya, ini replika vw kodoknya, mirip kan ama gambar yang eneng kasih?”
Tukang kayu itu sumringah sambil menunjukan karyanya. Replika VW Beatle dengan warna merah yang mecolok, detailnya halus seperti buatan toko mahal.
“Buat pacarnya ya, Neng?”
Si gadis tersenyum kecil sembari membayar. Ia pun tidak berucap lagi selain sebuah ucapan terima kasih sampai langkahnya menjauh.
***
Pukul 8 malam. Sepertinya langit belum puas memeras awannya tadi siang, hujan mengguyur lagi. Sensasi petir dan angin menambah rusuh keadaan di luar. Untung pemuda dan gadis itu sudah bernaung aman di kamar mereka masing-masing memegang apa yang pagi dan sore ini mereka ambil.
Buket bunga itu masih segar. Ingatan si pemuda tentang seseorang yang mungkin akan marah-marah ketika diberi buket bunga ini menyeruak.
“No flower should be sacrified to make one happy!”
Di lain tempat, replika mobil itu belum sekalipun lepas dari pandangan si gadis. Jemarinya menyentuh replika itu dengan hati-hati, seketika itu sebuah memori suara berputar di kepalanya.
“I really want to have that kind of car someday.”
Mereka berdua menghela nafas dan menenggelamkan wajah dalam telapak tangan masing-masing.
“1, 2, 3, 4, 5...” hitungnya.
Tak lama seorang pemuda datang mengambil buket itu, jam 5 sore, seperti yang dipesan kemarin. Begitu tepat, tak kurang, tak lebih.
“Selamat ya, mas.” Ujar tukang bunga itu.
“Kenapa, mas?” Pemuda itu bertanya heran.
“Untuk pacarnya ‘kan?”
Si pemuda hanya tersenyum kecil lalu membayar uang pas. Setelah berucap terima kasih, ia segera pergi seakan terburu-buru mengejar sesuatu.
***
Gadis itu melangkah terburu, ia bahkan tak membuang waktu menikmati cuaca sore yang sejuk karena hujan siang tadi. Ia juga tidak peduli ada pelagi yang centil muncul diatas sana. Ia hanya ingin cepat mengambil pesanannya.
“Syukur lah belum tutup...” serunya sambil mengambil nafas.
“Belum kok, Neng. Santai aja. Oiya, ini replika vw kodoknya, mirip kan ama gambar yang eneng kasih?”
Tukang kayu itu sumringah sambil menunjukan karyanya. Replika VW Beatle dengan warna merah yang mecolok, detailnya halus seperti buatan toko mahal.
“Buat pacarnya ya, Neng?”
Si gadis tersenyum kecil sembari membayar. Ia pun tidak berucap lagi selain sebuah ucapan terima kasih sampai langkahnya menjauh.
***
Pukul 8 malam. Sepertinya langit belum puas memeras awannya tadi siang, hujan mengguyur lagi. Sensasi petir dan angin menambah rusuh keadaan di luar. Untung pemuda dan gadis itu sudah bernaung aman di kamar mereka masing-masing memegang apa yang pagi dan sore ini mereka ambil.
Buket bunga itu masih segar. Ingatan si pemuda tentang seseorang yang mungkin akan marah-marah ketika diberi buket bunga ini menyeruak.
“No flower should be sacrified to make one happy!”
Di lain tempat, replika mobil itu belum sekalipun lepas dari pandangan si gadis. Jemarinya menyentuh replika itu dengan hati-hati, seketika itu sebuah memori suara berputar di kepalanya.
“I really want to have that kind of car someday.”
Mereka berdua menghela nafas dan menenggelamkan wajah dalam telapak tangan masing-masing.
Saturday, April 21, 2012
Failed Birthday Surprise
"Will you tell me, Dad, puh-liiissshhhh..." Helga masih memohon.
Sang ayahnya belum tampak jengah, Malah menikmati. Tidak ada yang bisa mengalahkan saat-saat dimana gadis kecilnya memohon untuk sesuatu. Helga sangat cuek atas apapun, namun kali ini sang ayah bisa membuatnya merengek nyaris seharian penuh apabila sang ibu tidak tiba-tiba masuk dan membunuh kesenangannya.
"You will get your new bike tomorrow. Besok." kata sang ibu tiba-tiba.
"Hey, that's my surprise!" Protes sang ayah.
"I'm the mom, I do what i want. Toh ayah juga akan tunjukan sepedanya di gudang besok."
"Heeeyyyy...!" protes sang ayah makin meninggi.
Sang ibu hanya nyengir, tanpa rasa bersalah beranjak ke dapur.
"Ayaaahhh... Kita ke gudang sekarang yaaa.. Boleh yaaa..." ajak Helga dengan mata berbinar-binar "I need to train how to run away if zombie apocalypse strike"
"With a bike?"
"I'll put a jet pack on it"
Sang ayah tak bisa menahan geli sekaligus takjub, berusia 8 tahun dan gadisnya bicara zombie dan jet pack.
Sang ayahnya belum tampak jengah, Malah menikmati. Tidak ada yang bisa mengalahkan saat-saat dimana gadis kecilnya memohon untuk sesuatu. Helga sangat cuek atas apapun, namun kali ini sang ayah bisa membuatnya merengek nyaris seharian penuh apabila sang ibu tidak tiba-tiba masuk dan membunuh kesenangannya.
"You will get your new bike tomorrow. Besok." kata sang ibu tiba-tiba.
"Hey, that's my surprise!" Protes sang ayah.
"I'm the mom, I do what i want. Toh ayah juga akan tunjukan sepedanya di gudang besok."
"Heeeyyyy...!" protes sang ayah makin meninggi.
Sang ibu hanya nyengir, tanpa rasa bersalah beranjak ke dapur.
"Ayaaahhh... Kita ke gudang sekarang yaaa.. Boleh yaaa..." ajak Helga dengan mata berbinar-binar "I need to train how to run away if zombie apocalypse strike"
"With a bike?"
"I'll put a jet pack on it"
Sang ayah tak bisa menahan geli sekaligus takjub, berusia 8 tahun dan gadisnya bicara zombie dan jet pack.
Friday, June 17, 2011
Ken(apa)
Ken menarik kembali selimutnya. Kepalanya masih berat. Entah apa yang ia gelontorkan ke dalam kerongkongannya semalam. Rasanya tidak mungkin 2 butir obat sakit kepala bisa menyebabkan ini. Atau mungkin ia meminumnya dengan sesuatu yang dapat menjadi kombinasi buruk dan memecah sadarnya seketika?
Aaaahhh! Kenapa tubuhnya juga terasa lemah dan aneh. Nyawanya seperti tinggal seperdelapan. Ia bahkan harus bersusah payah bangkit saat alarm selulernya berdering kencang. Rasanya seperti jarum yang menusuk genderan telinganya atau ada burung bangkong yang memekik keras di sampingnya. Sialnya, seluler itu berada jauh di ujung ruangan.
"Brengsek!" Makinya. Ide brilian siapa yang menaruh alarm begitu jauh. Jika ada senapan di tangannya, pasti ia tak akan ragu membungkam benda canggih itu dengan satu tembakan. Ia tak peduli tentang lembar rupiah telah ia keluarkan. Semua itu tak berguna lagi ketika dunia terasa begitu gelap.
Namun ia ingat, dunia pernah terang. Bahkan gemerlapan dengan cahaya. Ribuan tepuk tangan terdengar seperti suara surga. Ia ingat berdiri di atas sana. Sebuah panggung yang sederana dalam gedung megah setara dengan Opera House di Sidney. Ia memakai setelan terbaiknya. Kakinya berbalut sebuah sepatu yang disemir begitu sempurna sampai berkilat-kilat.
Mengapa ia disana? Ia tidak bisa ingat. Semuanya tiba-tiba luluh lantak seperti cermin yang dihantam palu. Prang! Yang kemudian ia ingat hanya suara mesin-mesin aneh di rumah sakit. Sebuah kejang dasyat dan ia kembali ke dalam gelap. Saat ia bagun semua orang nampak bahagia. Ada perempuan tua dengan wajah hangat menangis haru. Sesosok pemuda yang nampak lebih muda darinya berlari keluar kamar dan kembali dengan membawa dokter-dokter yang membawa berbagai peralatan untuk mengecek kesadarannya.
Sampai kini ia tidak pernah mengerti apa yang terjadi. Ia juga masih menyusun segala kenangan dan membangun dirinya kembali. Dengan puluhan piala yang ia lihat saat ia pulang ke rumah mungkin ia seorang yang berprestasi. Lembaran piagam yang dipajang di dinding membuatnya berpikir mungkin ia cukup pandai. Terakhir, sebuah grand piano di sudut rumah itu membuatnya yakin, ia pasti seorang musisi. Tampan, kaya, dan berbakat.
Mengingat semua itu membuat kepalanya kembali terasa berat. Bahkan makin berat. Tubuhnya makin kaku dan kini terasa dingin. Dinding kamarnya terasa seperti akan runtuh namun ia tak bisa berkutik.
”Ken! Ken! Ken!” seru ribuan suara yang terdengar memanggil. Tapi dimana? Darimana? Seiring suara yang terus bersautan, Ken pun pasrah. Mungkin ini akhir hidupnya. Ia menyayangkan keabsurdan yang menelannya. Yang tak bisa dicerna sekalipun dengan logika paling sederhana. Saat suara-suara itu tiba-tiba hilang, Ken pun kembali dalam gelapnya.
”Kasian Kak Ken, Oma. Sudah hampir sebulan dia koma. Kapan dia bangun, Oma?”
”Entah, Oma juga tidak tau. Tetaplah berusaha berdoa dan ajak dia bicara. Siapa tau dia bisa mendengarmu dari alam bawah sadarnya”
“Iya, Oma. Tadi aku bercerita tentang pertunjukan Kakak yang terakhir sebelum ia tumbang diatas panggung. Aku bercerita tentang ribuan standing ovation. Resital piano terbaik yang pernah ada.”
Aaaahhh! Kenapa tubuhnya juga terasa lemah dan aneh. Nyawanya seperti tinggal seperdelapan. Ia bahkan harus bersusah payah bangkit saat alarm selulernya berdering kencang. Rasanya seperti jarum yang menusuk genderan telinganya atau ada burung bangkong yang memekik keras di sampingnya. Sialnya, seluler itu berada jauh di ujung ruangan.
"Brengsek!" Makinya. Ide brilian siapa yang menaruh alarm begitu jauh. Jika ada senapan di tangannya, pasti ia tak akan ragu membungkam benda canggih itu dengan satu tembakan. Ia tak peduli tentang lembar rupiah telah ia keluarkan. Semua itu tak berguna lagi ketika dunia terasa begitu gelap.
Namun ia ingat, dunia pernah terang. Bahkan gemerlapan dengan cahaya. Ribuan tepuk tangan terdengar seperti suara surga. Ia ingat berdiri di atas sana. Sebuah panggung yang sederana dalam gedung megah setara dengan Opera House di Sidney. Ia memakai setelan terbaiknya. Kakinya berbalut sebuah sepatu yang disemir begitu sempurna sampai berkilat-kilat.
Mengapa ia disana? Ia tidak bisa ingat. Semuanya tiba-tiba luluh lantak seperti cermin yang dihantam palu. Prang! Yang kemudian ia ingat hanya suara mesin-mesin aneh di rumah sakit. Sebuah kejang dasyat dan ia kembali ke dalam gelap. Saat ia bagun semua orang nampak bahagia. Ada perempuan tua dengan wajah hangat menangis haru. Sesosok pemuda yang nampak lebih muda darinya berlari keluar kamar dan kembali dengan membawa dokter-dokter yang membawa berbagai peralatan untuk mengecek kesadarannya.
Sampai kini ia tidak pernah mengerti apa yang terjadi. Ia juga masih menyusun segala kenangan dan membangun dirinya kembali. Dengan puluhan piala yang ia lihat saat ia pulang ke rumah mungkin ia seorang yang berprestasi. Lembaran piagam yang dipajang di dinding membuatnya berpikir mungkin ia cukup pandai. Terakhir, sebuah grand piano di sudut rumah itu membuatnya yakin, ia pasti seorang musisi. Tampan, kaya, dan berbakat.
Mengingat semua itu membuat kepalanya kembali terasa berat. Bahkan makin berat. Tubuhnya makin kaku dan kini terasa dingin. Dinding kamarnya terasa seperti akan runtuh namun ia tak bisa berkutik.
”Ken! Ken! Ken!” seru ribuan suara yang terdengar memanggil. Tapi dimana? Darimana? Seiring suara yang terus bersautan, Ken pun pasrah. Mungkin ini akhir hidupnya. Ia menyayangkan keabsurdan yang menelannya. Yang tak bisa dicerna sekalipun dengan logika paling sederhana. Saat suara-suara itu tiba-tiba hilang, Ken pun kembali dalam gelapnya.
”Kasian Kak Ken, Oma. Sudah hampir sebulan dia koma. Kapan dia bangun, Oma?”
”Entah, Oma juga tidak tau. Tetaplah berusaha berdoa dan ajak dia bicara. Siapa tau dia bisa mendengarmu dari alam bawah sadarnya”
“Iya, Oma. Tadi aku bercerita tentang pertunjukan Kakak yang terakhir sebelum ia tumbang diatas panggung. Aku bercerita tentang ribuan standing ovation. Resital piano terbaik yang pernah ada.”
Subscribe to:
Posts (Atom)